Yuk Cari Tahu 7 Beda TOEFL dan IELTS: Pilih Sesuai Tujuanmu!

ilustrasi Beda TOEFL dan IELTS

Hai, Bahasawan!

Bahasawan sedang bimbang menentukan ujian sertifikasi bahasa Inggris yang pas? Mendaftar tes sertifikasi bahasa Inggris sering kali menjadi momen yang membingungkan, terutama saat Bahasawan dihadapkan pada dua pilihan, tapi masih ragu beda TOEFL dan IELTS. Tenang saja, Bahasmin paham betul kebingungan ini!

Secara garis besar, beda TOEFL dan IELTS yang paling nyata ada pada kiblat negaranya serta format pengerjaan ujiannya. TOEFL sangat kental dengan gaya Amerika Serikat yang serba menggunakan komputer dan berfokus murni pada lingkungan akademis. Di sisi lain, IELTS lebih bisa diterima secara internasional, terutama Inggris dan Australia serta menawarkan opsi ujian yang lebih fleksibel, baik untuk urusan kampus maupun syarat migrasi bekerja.

Bagi Bahasawan yang berstatus fresh graduate, mahasiswa tingkat akhir, atau pemburu beasiswa, memahami beda TOEFL dan IELTS bukan sekadar urusan gengsi. Ini menyangkut investasi waktu belajar dan biaya pendaftaran tes yang menyentuh angka jutaan rupiah. Salah memilih tes berarti sertifikat tersebut berisiko tidak diakui oleh kampus atau perusahaan impian. Oleh karena itu, melalui artikel ini, Bahasmin akan membedah 7 poin perbedaan utamanya secara tuntas agar Bahasawan tidak salah langkah dan bisa mengambil keputusan yang paling menguntungkan hari ini juga.

Kenapa Banyak Orang Bingung Memilih antara TOEFL dan IELTS?

Kebingungan ini sangat wajar terjadi. Kedua nama tes ini mendominasi persyaratan dokumen di berbagai institusi, sehingga wajar jika pemula merasa kesulitan membedakan fungsi spesifiknya.

Fakta dasarnya, kedua ujian ini menguji empat kemampuan yang sama yakni mendengar, membaca, menulis, dan berbicara. Namun, peruntukannya tidak bisa disamakan. Menurut ETS (Educational Testing Service) selaku penyelenggara, TOEFL dirancang murni untuk mengevaluasi kemampuan bahasa Inggris di tingkat universitas. Di sisi lain, IELTS memiliki dua modul berbeda, yaitu Academic untuk kuliah dan General Training untuk keperluan bekerja atau migrasi. Mengetahui beda TOEFL dan IELTS di aspek tujuan ini akan menyelematkan Bahasawan dari salah langkah.

Bahasmin sering melihat pelamar yang terlalu berambisi mengejar skor tinggi di satu jenis tes karena merasa tes tersebut lebih bergengsi. Padahal, pihak penyelenggara beasiswa atau HRD perusahaan tidak peduli seberapa populer tes tersebut, mereka hanya peduli apakah sertifikat yang dilampirkan sesuai dengan persyaratan dokumen mereka.

Mari bicara realita. Biaya pendaftaran untuk tes toefl resmi online maupun IELTS berkisar di angka tiga juta rupiah. Angka ini belum termasuk biaya les, buku persiapan, dan waktu berbulan-bulan yang Bahasawan habiskan. Jika Bahasawan mengambil tes yang tidak diakui oleh kampus tujuan, uang dan keringat tersebut akan hangus tanpa hasil.

TOEFL dan IELTS Itu Apa Bedanya Secara Umum?

Secara fundamental, karakteristik kedua tes ini dipengaruhi oleh siapa yang membuatnya dan pasar mana yang mereka tuju. Supaya Bahasawan tidak lagi meraba-raba, mari kita bedah ketujuh beda TOEFL dan IELTS yang paling mendasar. Bahasmin akan jelaskan detailnya sampai ke teknis ujian yang akan Bahasawan hadapi nanti.

1. Asal dan Target Geografis Institusi

TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dirancang oleh ETS, sebuah lembaga nirlaba asal Amerika Serikat. Karena akarnya dari Amerika, ujian ini sangat kental dengan American English. Ini berarti ejaan yang digunakan (misalnya color alih-alih colour), kosakata, hingga logat pembicara dalam audio ujian akan terdengar seperti orang Amerika pada umumnya. Kampus-kampus bergengsi di Amerika Utara (AS dan Kanada) menjadikan toefl online resmi sebagai standar utama penerimaan mahasiswa internasional mereka.

Sebaliknya, IELTS (International English Language Testing System) dikembangkan bersama oleh British Council, IDP Australia, dan Cambridge Assessment English. Logat audio yang akan Bahasawan dengar jauh lebih beragam, mulai dari aksen British, Scottish, Australian, hingga New Zealand. Oleh karena itu, sertifikat IELTS sangat mendominasi persyaratan administrasi di negara-negara persemakmuran Inggris dan benua Eropa.

2. Tujuan Penggunaan (Fokus Modul)

Ini adalah beda TOEFL dan IELTS yang sering menjebak pemula. TOEFL iBT hanya memiliki satu fokus jalur yaitu Academic. Ujian ini didesain murni untuk melihat apakah Bahasawan bisa bertahan hidup dan mencerna materi kuliah di universitas berbahasa Inggris.

Sementara itu, IELTS menawarkan fleksibilitas dengan membagi ujiannya menjadi dua varian. Pertama adalah IELTS Academic yang fungsinya sama persis dengan TOEFL untuk keperluan kuliah. Kedua adalah IELTS General Training. Varian General ini digunakan khusus untuk Bahasawan yang ingin melamar pekerjaan di luar negeri, mengikuti program pelatihan non-gelar, atau mengurus dokumen imigrasi untuk pindah kewarganegaraan ke negara seperti Australia atau Kanada.

3. Sesi Listening (Mendengar)

Pengalaman di ruang ujian untuk sesi mendengar ini bagaikan bumi dan langit. Pada ujian TOEFL, Bahasawan akan mendengarkan rekaman percakapan atau simulasi dosen yang sedang mengajar dengan durasi cukup panjang (bisa 3 sampai 5 menit). Masalahnya, soal tidak akan ditampilkan sebelum audio selesai berputar! Jadi, Bahasawan harus sangat jago mencatat poin penting (note-taking) sambil terus fokus mendengar.

Di sisi lain, IELTS menguji kemampuan multitasking. Bahasawan sudah bisa memegang kertas soal (atau melihat layar) dari awal. Bahasawan dituntut untuk membaca pertanyaan, mendengarkan audio yang sedang berputar, dan langsung menuliskan atau mengetik jawaban secara bersamaan. Jika terlewat satu detik saja, Bahasawan bisa kehilangan jawaban karena audio hanya diputar satu kali.

4. Sesi Reading (Membaca)

Teks bacaan TOEFL ibarat Bahasawan sedang membuka buku diktat kuliah semester satu. Topiknya sangat akademis dan spesifik, mencakup jurnal biologi, sejarah peradaban, astronomi, hingga seni. Kosakata yang diuji benar-benar kosakata tingkat universitas.

Sedangkan untuk IELTS, sumber bacaannya sedikit lebih ramah untuk kehidupan sehari-hari, terutama jika Bahasawan mengambil modul General Training. Teksnya bisa diambil dari potongan iklan majalah, buku panduan keselamatan kerja, dokumen kontrak perusahaan, atau surat kabar umum. Walaupun Bahasawan mengambil IELTS Academic, format pertanyaannya lebih bervariasi, seperti mencocokkan judul paragraf atau pertanyaan menjebak bertipe True/False/Not Given.

5. Sesi Writing (Menulis)

Bagi Bahasawan yang mencari tes toefl online yang diakui, bersiaplah untuk mengetik dengan cepat. Sesi menulis TOEFL mengharuskan Bahasawan menggabungkan tiga keahlian sekaligus: membaca teks pendek, mendengarkan audio bantahan dari teks tersebut, lalu mengetik esai di komputer yang merangkum keduanya.

Beda TOEFL dan IELTS di sesi ini cukup drastis. Pada Task 1 IELTS Academic, Bahasawan dituntut untuk punya kemampuan analisis visual. Bahasawan akan disajikan sebuah gambar grafik (bisa diagram batang, garis, atau pie chart) dan harus mendeskripsikan tren data tersebut menggunakan bahasa sendiri. Setelah itu, pada Task 2, barulah Bahasawan menulis esai opini terkait isu sosial. IELTS juga memberikan opsi kepada peserta apakah ingin ujian berbasis komputer atau menulis manual dengan pensil di atas kertas.

6. Sesi Speaking (Berbicara)

Ini adalah perbedaan yang paling ditakuti sekaligus disukai oleh banyak orang, tergantung kepribadian Bahasawan. Ujian TOEFL tidak melibatkan manusia sebagai penguji langsung. Bahasawan akan memakai headset, mendengar pertanyaan, melihat layar hitung mundur (misalnya 15 detik untuk berpikir dan 45 detik untuk bicara), lalu suara Bahasawan akan direkam ke dalam sistem komputer. Suasananya cukup mekanis dan menegangkan karena dibatasi bunyi beep.

Berbeda jauh dengan IELTS yang menonjolkan interaksi organik layaknya wawancara kerja. Bahasawan akan duduk berhadapan empat mata dengan seorang examiner (penguji asli) di ruangan tertutup. Bahasawan bisa menggunakan bahasa tubuh, tersenyum, dan berinteraksi senatural mungkin. Jika ada pertanyaan di bagian tertentu yang kurang jelas, Bahasawan bahkan diizinkan meminta penguji untuk mengulang pertanyaannya.

7. Sistem Penilaian (Skor)

Penting untuk Bahasawan pahami bahwa skala penilaian kedua tes ini tidak bisa disamakan satu banding satu secara mentah. TOEFL iBT menggunakan sistem poin kumulatif dengan total nilai maksimal 120 poin. Masing-masing dari empat sesi yang diujikan (Reading, Listening, Speaking, Writing) memiliki bobot maksimal 30 poin. Biasanya, kampus top dunia meminta sertifikat toefl online resmi dengan skor di atas 90 atau 100.

Sementara itu, IELTS menggunakan sistem Band Score berskala 0 hingga 9.0. Skor ini diberikan dalam kelipatan setengah, seperti 6.0, 6.5, atau 7.0. Nilai akhir Bahasawan (disebut Overall Band Score) adalah hasil rata-rata dari keempat sesi yang diujikan. Rata-rata universitas luar negeri mematok syarat minimum Band 6.5 untuk jenjang sarjana dan 7.0 untuk jenjang pascasarjana.

Mana yang Lebih Sulit: TOEFL atau IELTS?

Setiap kali Bahasmin ditanya hal ini, jawabannya tergantung gaya belajar dan kekuatan pribadi. Ujian mana yang lebih sulit sangat bergantung pada kebiasaan Bahasawan. Jika Bahasawan terbiasa mengetik 10 jari dengan cepat, menulis untuk TOEFL tidak akan jadi masalah. Tapi jika Bahasawan lebih suka menulis manual di kertas, IELTS bisa terasa lebih melegakan.

TOEFL sangat ideal untuk Bahasawan yang tahan duduk berjam-jam fokus di depan layar, memiliki kemampuan mencatat poin penting (note-taking) dengan cepat saat mendengar audio, dan tidak nyaman jika harus ditatap langsung oleh orang asing saat ujian berbicara.

Pilih IELTS jika Bahasawan sangat teliti dengan urusan ejaan (spelling), lebih luwes berdiskusi dua arah dengan manusia sesungguhnya, dan terbiasa mendengar beragam aksen bahasa Inggris mulai dari British, Scottish, hingga Australian.

Salah satu jebakan terbesar adalah mengikuti omongan teman. Beda TOEFL dan IELTS sengaja dibuat agar bisa mengakomodasi berbagai tipe pembelajar. Nilai kekuatan diri sendiri secara jujur.

Kesimpulan

Menelusuri beda TOEFL dan IELTS akan menyadarkan kita pada satu fakta penting: tidak ada ujian yang sempurna untuk semua orang. Pilihan terbaik jatuh pada ujian yang paling sejajar dengan kebutuhan institusi sasaran dan paling nyaman dengan gaya belajar Bahasawan. Jangan sampai keliru mengambil sertifikat karena ikut-ikutan tren.

Sudah memutuskan mau fokus menaklukkan ujian yang mana? Langkah selanjutnya adalah menyusun strategi belajar yang terstruktur. Yuk, siapkan mental dan asah kemampuanmu dari sekarang bersama tim ahli Bahasmin! Cek info selengkapnya di Persiapan TOEFL Kelas Bahasa dan raih target skormu secepatnya!


FAQ

Apa beda TOEFL dan IELTS yang paling utama?

Perbedaan paling mendasar terletak pada arah tujuannya dan format pelaksanaannya. TOEFL kental dengan urusan akademik gaya Amerika dan didominasi pengerjaan via komputer, sedangkan IELTS menawarkan opsi akademik dan imigrasi global dengan format soal yang mengharuskan banyak menulis tangan serta berdialog langsung dengan manusia.

TOEFL atau IELTS yang lebih mudah?

Pertanyaan ini bergantung pada kekuatan individu. Jika Bahasawan fasih mengetik cepat, punya fokus mendengar yang kuat, dan lebih nyaman dengan ujian komputer, TOEFL akan terasa mudah. Sebaliknya, jika Bahasawan pandai berinteraksi langsung dan terbiasa dengan aksen Inggris, IELTS adalah jawaban yang pas.

Untuk beasiswa lebih baik TOEFL atau IELTS?

Semuanya kembali ke penyedia beasiswanya. Institusi dari Amerika (seperti Fulbright) nyaris selalu mewajibkan TOEFL. Namun, penyedia beasiswa dari Eropa, Australia, atau Selandia Baru (seperti LPDP, Chevening, AAS) lebih sering meminta dan memprioritaskan skor IELTS.

Apakah TOEFL bisa dipakai untuk semua kampus luar negeri?

Sayangnya tidak selalu. Meskipun universitas top dunia kini mulai fleksibel menerima berbagai sertifikat, masih banyak kampus di wilayah persemakmuran Inggris yang menetapkan aturan baku bahwa hanya IELTS yang diterima sebagai kelengkapan berkas pendaftaran mereka.

Bagaimana cara menentukan tes bahasa Inggris yang paling cocok?

Taktik paling jitu adalah mengecek langsung bagian persyaratan bahasa di website resmi institusi tujuan Bahasawan. Setelah tahu opsi apa yang diperbolehkan, kenali gaya format soalnya, lalu ikuti simulasi ujian (try out gratis) untuk melihat tes mana yang mampu memberikan hasil skor terbaik bagi Bahasawan.

Rieska Novia
Rieska Novia

Hai! Aku Rieska Novia, fresh graduate ilmu perpustakaan dan informasi. Saat ini lagi menekuni menulis artikel SEO Friendly! Aku sangat tertarik dengan dunia kepenulisan serta literasi digital.