IELTS Speaking Test: 3 Format, Penilaian, dan Cara Latihan

ilustrasi IELTS Speaking Test

Halo Bahasawan!

Mempersiapkan ujian bahasa Inggris sering kali membuat kita banyak pikiran, apalagi untuk sesi wawancara tatap muka. Wajar jika banyak dari kita yang merasa bingung tentang struktur IELTS speaking test, tidak tahu persis apa saja yang dinilai, atau merasa takut ujian ini akan terasa sangat menegangkan. Selain itu, belum tahu cara latihan yang benar sering kali membuat kita tidak yakin bagaimana meningkatkan band score.

Lewat artikel ini, Bahasmin mau memberi gambaran lengkap tentang IELTS speaking test, membantu Bahasawan memahami format dan penilaian, lalu memberi arahan latihan yang lebih terstruktur sebelum tes. Mulai dari pelajar, mahasiswa, fresh graduate, pekerja, hingga calon peserta tes, semua bisa menggunakan panduan ini agar lebih siap dan percaya diri. Yuk, mari kita bahas tuntas semuanya!

IELTS Speaking Test Itu Seperti Apa?

Secara sederhana, IELTS Speaking Test adalah sesi wawancara tatap muka langsung (face-to-face) antara Bahasawan dengan seorang penguji resmi (examiner) yang sudah punya lisensi internasional. Tujuan utama tes ini adalah untuk mengukur seberapa mampu dan natural kamu menggunakan bahasa Inggris lisan dalam situasi kehidupan nyata, entah itu untuk keperluan kuliah, kerja, atau pindah ke luar negeri.

Biar lebih kebayang, ini beberapa fakta unik tentang wujud tesnya:

  • Singkat dan Padat: Tes ini nggak akan bikin kamu duduk berjam-jam. Waktunya sangat singkat, cuma memakan waktu sekitar 11 sampai 14 menit saja secara total!
  • Ada 3 Babak: Dalam waktu belasan menit itu, kamu akan diajak melewati tiga tahap. Mulai dari pemanasan ngobrol santai soal keseharian (Part 1), disuruh cerita sendirian membahas topik dari sebuah kartu (Part 2), sampai diskusi dua arah yang agak mendalam (Part 3).
  • Direkam Penuh: Selama wawancara berlangsung, suara Bahasawan akan direkam oleh penguji. Tenang saja, ini bukan buat disebar ke mana-mana, tapi murni untuk arsip dan keperluan penilaian. Jadi, kalau suatu saat kamu merasa nilaimu kurang pas dan minta dikoreksi ulang (remark), pihak penyelenggara bisa mendengarkan kembali rekaman tersebut.
  • Bukan Ujian Tulis yang Diucapkan: Tidak ada pilihan ganda atau format mengisi titik-titik. Kamu benar-benar duduk berhadapan (bisa langsung di ruangan atau via video call resmi di pusat tes) dan saling berbalas obrolan secara langsung.

Nah, karena bentuk aslinya adalah obrolan langsung antar manusia inilah, makanya di penjelasan sebelumnya Bahasmin sangat menekankan kalau kamu nggak perlu jadi “robot kamus” atau pura-pura punya “aksen bule”. Ujian ini dirancang untuk melihat seberapa nyaman kamu berinteraksi secara riil.

Banyak peserta ujian yang merasa terbebani karena mengira mereka diwajibkan untuk berbicara seratus persen layaknya native speaker. Buang jauh-jauh pikiran harus sempurna! Kenyataannya, pihak penguji atau examiner tidak mencari robot yang menghafal kamus. Mereka ingin melihat kemampuan berkomunikasi dengan jelas dan natural. Selama Bahasawan bisa menyampaikan ide secara masuk akal dan mudah dipahami, jalan menuju nilai yang memuaskan sudah terbuka lebar.

Format IELTS Speaking Test dari Awal Sampai Akhir

Menurut panduan dari British Council, alur IELTS Speaking Test didesain bertahap dari yang paling mudah ke yang paling kompleks. Secara keseluruhan, wawancara ini hanya memakan waktu sekitar 11 hingga 14 menit saja. Dalam rentang waktu tersebut, tes dibagi menjadi tiga bagian yang terstruktur jelas.

Part 1: pertanyaan ringan tentang diri dan topik sehari-hari

Sesi pembuka ini bertujuan untuk mencairkan suasana. Bahasawan akan menjawab berbagai pertanyaan ringan tentang diri sendiri dan topik sehari-hari seperti hobi, pekerjaan, atau keluarga.

Tujuan utama dari bagian ini adalah membuat kamu rileks dan membiasakan otot mulutmu berbicara bahasa Inggris. Karena topiknya sangat dekat dengan kehidupan pribadi, kamu tidak perlu berpikir terlalu keras. Jawab saja dengan jujur dan santai, layaknya obrolan biasa.

Part 2: cue card dan berbicara lebih panjang

Setelah pemanasan, penguji akan memberikan sebuah cue card. Di sini, Bahasawan diberi waktu satu menit untuk berpikir, lalu diminta untuk berbicara lebih panjang secara monolog selama satu hingga dua menit terkait topik di kartu tersebut.

Examiner akan memberikan sebuah kartu (cue card), sebatang pensil, dan kertas buram. Di dalam kartu itu ada sebuah topik spesifik, misalnya: “Ceritakan tentang seseorang yang sangat menginspirasi hidupmu.”

Di sini, kamu diberi waktu satu menit untuk berpikir dan mencoret-coret kerangka jawaban di kertas. Setelah satu menit habis, examiner akan diam, dan panggung sepenuhnya menjadi milikmu. Kamu harus berbicara sendirian (monolog) menceritakan topik tersebut selama satu sampai dua menit penuh. Tantangan utamanya adalah merangkai cerita sedemikian rupa agar kamu tidak kehabisan bahan omongan sebelum waktunya selesai, tapi juga tidak terdengar seperti sedang menghafal pidato.

Part 3: diskusi lebih mendalam dengan examiner

Di sesi terakhir, topik dari cue card sebelumnya akan diangkat kembali untuk bahan diskusi yang lebih mendalam dengan examiner. Pertanyaannya akan lebih konseptual dan abstrak.

Kalau di Part 2 kamu bercerita tentang “sosok yang menginspirasi”, di Part 3 examiner mungkin akan bertanya sesuatu yang lebih konseptual, seperti: “Menurut Anda, apakah figur publik atau selebritas memiliki tanggung jawab moral untuk selalu menjadi contoh yang baik bagi masyarakat?”

Di sinilah kemampuan berpikir kritismu benar-benar diuji. Examiner akan mengajakmu berdiskusi dua arah, sering memancing dengan pertanyaan “Mengapa Anda berpikir demikian?”, dan melihat seberapa jauh kamu bisa mempertahankan argumen secara logis. Ini mirip seperti sesi tanya jawab saat presentasi di kampus atau meeting di kantor.

Apa yang Dinilai dalam IELTS Speaking Test?

Penilaian ujian tidak dilakukan secara acak. Merujuk pada kriteria penilaian publik dari IDP IELTS, ada empat indikator utama yang menjadi patokan para penguji.

Fluency and coherence

Kriteria ini melihat seberapa lancar dan mengalir ucapan Bahasawan tanpa terlalu banyak jeda yang mengganggu. Selain itu, ide yang disampaikan juga harus logis dan saling terhubung dengan baik (coherence).

Ini ibarat kamu sedang menyetir di jalan tol, sebisa mungkin jalannya harus mulus. Boleh kok sesekali berhenti sejenak untuk memikirkan ide, tapi jangan terlalu sering memakai filler seperti “eee…”, “emmm…”, atau diam terlalu lama sampai bikin obrolannya macet. Selain lancar, idenya juga harus nyambung (coherence). Kalau ditanya soal makanan favorit, jelaskan alasannya secara logis agar alur ceritanya enak diikuti dari awal sampai akhir

Lexical resource

Bagian ini murni menilai perbendaharaan kosakata. Penguji ingin mendengar seberapa kaya kosakata yang Bahasawan gunakan untuk mengekspresikan berbagai macam makna dengan tepat. Misalnya, daripada terus-terusan mengulang kata sifat “good“, kamu bisa menggantinya dengan kata lain seperti “excellent“, “fantastic“, atau “beneficial“. Tujuannya sederhana: supaya obrolanmu terdengar lebih berwarna dan tidak monoton.

Grammatical range and accuracy (Variasi dan Ketepatan Tata Bahasa)

Selain variasi kosakata, variasi struktur tata bahasa juga masuk hitungan. Grammatical range and accuracy mengukur seberapa fleksibel Bahasawan menggunakan berbagai bentuk grammar tanpa terlalu banyak melakukan kesalahan fatal.

Pada sesi ini, Examiner hanya ingin mengukur seberapa fleksibel kamu merangkai kalimat. Jangan hanya menggunakan pola kalimat dasar yang pendek-pendek berulang kali. Cobalah kombinasikan kalimat sederhana menjadi satu kalimat yang sedikit lebih panjang. Kalaupun ada sedikit kesalahan tata bahasa saat kamu berbicara dengan tempo natural, nilaimu tidak akan langsung anjlok asalkan pesan utamanya tidak berubah maknanya.

Pronunciation

Hal yang paling sering disalahpahami adalah menyamakan pronunciation dengan aksen. Keduanya beda jauh! Kamu berbicara dengan logat daerah asalmu pun tidak masalah. Yang dinilai di sini adalah apakah kata yang kamu ucapkan terdengar jelas. Jangan sampai kamu bermaksud mengucapkan kata “snack” (camilan) tapi terdengarnya malah seperti “snake” (ular). Pokoknya, selama penguji tidak perlu sampai mengerutkan dahi untuk menebak-nebak perkataanmu, pelafalanmu sudah terhitung berhasil.

Gambaran Singkat Tiap Part di IELTS Speaking Test

Mari kita intip taktik dasar yang bisa Bahasawan terapkan untuk setiap bagian ujiannya.

Yang Pertama, Menjawab pertanyaan pendek tanpa terlalu kaku

Untuk sesi awal, fokuslah pada bagaimana menjawab pertanyaan pendek tanpa terlalu kaku. Jawablah secukupnya dengan senyum, seolah sedang mengobrol biasa dengan kenalan baru. Inti dari sesi pertama ini adalah small talk atau basa-basi santai. Masalahnya, saking gugupnya, banyak peserta yang jawabnya terlalu singkat kayak lagi diinterogasi.

Misalnya penguji bertanya, “Do you like watching film?” Jangan cuma dijawab, “Yes, I like it.” Titik. Habis perkara.

Kalau jawabannya sependek itu, penguji bingung mau nilai apanya! Tambahkan sedikit detail biar obrolannya mengalir. Jawab saja, Yes, I really love them. I usually watch action films at the weekend to unwind after a week’s work.” Sambil jawab, tarik sedikit senyum di wajahmu. Anggap saja kamu lagi ngobrol sama teman baru di kafe. Jawab secukupnya, tetap sopan, tapi jangan terlihat tegang.

Yang Kedua, mengembangkan jawaban dari cue card

Tantangan monolog adalah kehabisan bahan obrolan. Oleh karena itu, penting untuk tahu bagaimana mengembangkan jawaban dari cue card dengan menambahkan cerita pribadi atau detail spesifik agar durasi dua menit terasa singkat.

Di sesi ini, kamu disuruh ngomong sendirian selama dua menit tanpa disela. Percaya deh, dua menit itu bakal terasa sangat lama kalau kamu cuma sebutin fakta-fakta singkat. Ujung-ujungnya pasti kehabisan bahan omongan dan suasana jadi hening.

Taktik paling ampuh di sini adalah bercerita alias storytelling! Jangan cuma fokus menjawab poin-poin di kartu, tapi selipkan cerita pribadi atau detail spesifik. Misalnya, kamu disuruh mendeskripsikan tempat makan yang enak. Alih-alih cuma bilang makanannya enak dan tempatnya bersih, ceritakan momen spesifik saat kamu ke sana. Ceritakan betapa serunya kamu kepedesan makan sambalnya sampai minum tiga gelas air, atau dengan siapa kamu ke sana. Ketika kamu membagikan pengalaman pribadi, otakmu tidak perlu susah-susah mengarang, dan durasi dua menit akan berlalu tanpa terasa.

Yang Ketiga, bagaimana menjawab pertanyaan abstrak tanpa blank

Di sesi penutup, strateginya adalah mengatur pernapasan dan menyusun argumen yang logis. Pahami bagaimana menjawab pertanyaan abstrak tanpa blank, misalnya dengan memberikan contoh kasus nyata di masyarakat.

Strategi utamanya adalah jangan buru-buru menjawab. Tarik napas sejenak, susun idenya sebentar di kepala. Kalau kamu bingung harus menjawab pakai teori apa, tarik saja ke contoh kasus nyata di masyarakat. Jawab berdasarkan apa yang sering kamu lihat di kehidupan sehari-hari. Berikan contoh bagaimana orang di sekitarmu sekarang lebih suka pesan makanan online karena sibuk bekerja. Membawa pertanyaan abstrak ke contoh kejadian nyata akan membuat jawabanmu terdengar sangat logis, berbobot, dan tentunya menghindarkan kamu dari kebuntuan ide.

Cara Latihan IELTS Speaking Test Sebelum Hari H

Persiapan adalah segalanya. Jika butuh panduan profesional, Bahasawan bisa melihat informasinya di Kursus IELTS dengan Kelas Bahasa.

Latihan berdasarkan format 3 part, bukan acak

Banyak peserta yang belajarnya milih-milih topik. Hari ini cuma mau latihan menjawab Part 1 karena pertanyaannya gampang, besoknya tiba-tiba langsung melompat mencoba menjawab soal Part 3 yang susah. Sebaiknya hindari kebiasaan ini! Biasakan otakmu bekerja mengikuti ritme ujian yang sebenarnya. Lakukan simulasi dari sesi pembuka yang santai, lanjut ke sesi monolog, dan diakhiri dengan sesi diskusi berat. Dengan berlatih secara berurutan, kamu melatih stamina berpikirmu agar tidak mudah kaget saat ujian aslinya berlangsung.

Gunakan timer untuk simulasi yang realistis

Saat disuruh berbicara sendirian di Part 2, dua menit itu bisa terasa sangat panjang kalau kamu tidak terbiasa. Risiko terbesarnya adalah kamu kehabisan bahan obrolan padahal waktunya masih tersisa banyak. Oleh karena itu, selalu taruh stopwatch di depanmu saat latihan di rumah. Tujuannya agar otak dan instingmu terbiasa mengukur seberapa panjang cerita yang harus dikeluarkan untuk memenuhi durasi tersebut tanpa tergesa-gesa.

Rekam suara dan evaluasi sendiri

Saat kita sedang asyik berbicara, kita sering kali merasa sudah sangat lancar. Padahal, coba deh sesekali rekam suaramu pakai ponsel, lalu dengarkan ulang. Dijamin, kamu akan menyadari seberapa sering kamu menggunakan jeda kosong seperti “eee…”, “umm…”, atau menyadari pelafalan kata yang ternyata masih keliru. Menggunakan alat rekam adalah cara paling ampuh untuk langsung melihat dan memperbaiki kebiasaan buruk yang sering tidak kita sadari saat berbicara.

Latihan dengan tutor atau partner untuk feedback yang lebih objektif

Belajar sendirian di kamar memang nyaman, tapi ada satu kelemahan besarnya: kita tidak bisa menilai diri kita sendiri secara jujur. Kita butuh orang lain sebagai lawan bicara untuk mengukur kemampuan kita yang sebenarnya. Latihanlah berdialog dengan teman atau tutor yang bisa memberikan masukan jujur dan objektif. Mereka bisa langsung menegur jika jawabanmu terlalu pendek, tata bahasamu berantakan, atau kosakatamu terlalu diulang-ulang. Masukan dari mereka akan mempercepat proses belajarmu.

Kesimpulan

Melalui artikel ini, Bahasmin berharap bisa menjelaskan format IELTS speaking test, kriteria penilaian, gambaran tiap part, kesalahan umum yang sering terjadi, dan cara latihan speaking yang lebih efektif. Harapannya, seluruh panduan ini bisa membantu Bahasawan lebih tenang dan terarah saat hari wawancara tiba. Jika merasa butuh pendampingan khusus dari mentor berpengalaman agar target skormu lebih pasti tercapai, Bahasawan bisa langsung bergabung dan mendaftar melalui Program Persiapan IELTS bersama Kelas Bahasa. Tetap semangat dan percaya diri, ya Bahasawan!


FAQ

IELTS Speaking Test terdiri dari berapa part?

Ujian ini terdiri dari tiga bagian utama yang saling berkesinambungan dari awal hingga akhir wawancara.

Apa saja yang dinilai di IELTS Speaking Test?

Terdapat empat kriteria yang dinilai oleh penguji: kelancaran dan koherensi, kekayaan kosakata, ketepatan tata bahasa, dan pengucapan.

Apakah jawaban harus panjang agar nilainya bagus?

Tidak harus terlalu panjang, yang paling penting adalah jawaban tersebut bisa dikembangkan dengan alasan dan detail yang jelas agar terdengar natural.

Bagaimana cara latihan IELTS Speaking Test di rumah?

Bahasawan bisa berlatih di rumah dengan merekam suara sendiri, membiasakan berbicara menggunakan stopwatch, dan menyimulasikan ketiga bagian tes secara urut.

Berapa lama idealnya persiapan IELTS Speaking sebelum tes?

Durasi persiapan sangat relatif. Jika kemampuan dasar masih kurang, mulailah berbulan-bulan sebelumnya. Namun jika sudah cukup mahir, fokus pada simulasi intensif beberapa minggu sebelum hari H.

Rieska Novia
Rieska Novia

Hai! Aku Rieska Novia, fresh graduate ilmu perpustakaan dan informasi. Saat ini lagi menekuni menulis artikel SEO Friendly! Aku sangat tertarik dengan dunia kepenulisan serta literasi digital.